Donderdag, 13 Junie 2013

DAMPAK PAKAIAN KETAT TERHADAP KESEHATAN

Latar Belakang
Pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah).Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan  menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang  memakainya. Perkembangan dan jenis-jenis pakaian tergantung pada adat-istiadat,  kebiasaan, dan budaya yang memiliki ciri khas masing-masing. Pakaian juga meningkatkan  keamanan selama kegiatan berbahaya seperti hiking dan memasak, dengan memberikan  penghalang antara kulit dan lingkungan. Pakaian juga memberikan  penghalang higienis, menjaga toksin dari badan dan membatasi penularan kuman. Salah satu tujuan utama dari pakaian adalah untuk menjaga pemakainya merasa nyaman. Dalam iklim panas busana menyediakan perlindungan dari terbakar sinar matahari atau berbagai dampak lainnya, sedangkan di iklim dingin sifat insulasi termal umumnya lebih penting.
Pakaian melindungi bagian tubuh yang tidak terlihat.  Pakaian bertindak sebagai perlindungan dari unsur-unsur yang merusak, termasuk hujansalju dan angin atau kondisi cuaca lainnya, serta dari matahari. Pakaian juga mengurangi  tingkat risiko selama kegiatan, seperti bekerja atau olahraga. Pakaian kadang-kadang dipakai sebagai perlindungan dari bahaya lingkungan tertentu, seperti seranggabahan kimiaberbahaya, senjata, dan kontak dengan zat abrasif. Sebaliknya, pakaian dapat melindungi lingkungan dari pemakai pakaian, seperti memakai masker.
Banyak kalangan remaja yang lebih memilih menggunakan celana ketat dari pada celana yang lebih longgar, hal ini disebabkan karena  penggunaannya yang sangat praktis, cocok untuk berbagai macam atasan.
Apa dampak pakaian ketat bagi kesehatan?, bagaimana cara pencegahan atau mengurangi penggunaan pakaian ketat ?. Kiranya dapat mencegah atau mengurangi penggunaan pakain ketat, dan pembaca dapat mengetahui dampak buruk pakaian ketat bagi kesehatan dan cara mencegahnya.

Dampak Pakaian Ketat Bagi Kesehetan Manusia
1. Paresthesia
Celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan penyakit
paresthesia. Istilah paresthesia sendiri, menurut Kamus Kedokteran Dorland,  berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar dan sejenisnya.
Gangguan saraf ringan itu terjadi karena  mereka suka sekali memakai celana ketat sebatas pinggul, setidaknya dalam enam bulan terakhir.
Paresthesia dikenali gejalanya berupa kesemutan yang lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya  saraf tepi, yakni saraf yang berada di luar jaringan otak di sekujur tubuh. Umumnya karena tertekan, infeksi, maupun gangguan metabolisme.
2. Ancaman Jamur
Pada dasarnya semua jenis pakaian ketat berpotensi  menimbulkan tiga macam gangguan kulit baik itu sebatas pinggul maupun di atas pinggul.
Hal itu disebabkan masalah kelembaban yang memungkinkan jamur subur berkembang biak. Belakangan ini, pasien korban jamur yang berobat ke  Klinik Kulit dan Kelamin RSCM meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2002, sekitar 35% pasien terbukti kena serangan jamur.  Usia mereka berkisar 15 – 45 tahun. Meski tak semuanya berhubungan dengan kebiasaan  berbusana, tetapi kecenderungan meningkatnya jamur sebagai sumber penyakit kulit mesti diwaspadai.
Idealnya, di negara tropis seperti Indonesia, pakaian  ketat atau terlalu tebal memang harusdihindari. Kulit menjadi kekurangan ruang untuk  “bernapas”, sementara cairan yang keluar dari dari tubuh cukup banyak. Akibatnya, permukaan  kulit menjadi lembab. Jika tak diimbangi busana yang tepat, jamur akan lebih mudah beranak pinak. Jenis jamur yang banyak ditemui adalah jamur panu (bercak putih, cokelat, atau kemerahan), jamur kurap dengan bintik menonjol gatal, serta
jamur kandida  yang basah dan gatal.
3. Berbekas Hitam
Sesuai namanya, gejala gatal dan beruntusan yang menjadi
trade mark sang  dermatitis  hanya muncul bila terjadi gesekan antara kulit dengan benda dari luar tubuh. Benda asing yang berpotensi gesek tinggi tidak hanya benda keras, semisal: perhiasan, jam tangan, atau ikat pinggang. Busana sehari-hari, jika terlalu ketat  menempel di tubuh, atau terbuat dan bahan berkontur kasar juga dapat memicu luka.
Celana ketat terutama berpengaruh pada kondisi kulit di sela-sela paha. Awalnya  mungkin cuma radang ringan. Tapi, kalau prosesnya berlangsung lama, bisa menimbulkan  bercak hitam di pangkal paha,” kata Kusmarinah Bramono”. Jika si pemilik tubuh insaf dan menjauhkan diri dari busana ketat, warna hitam tadi mungkin saja berkurang atau hilang sama sekali. Namun, Kusmarinah mengingatkan, proses menghilangkan noda hitam itu tak bisa dilakukan secepat membalik telapak tangan.
Jenis penyakit kulit lain yang biasa menghinggapi pemakai celana ketat adalah biduran atau kaligata. Bentuknya bentol-bentol mirip bekas gigitan ulat bulu. Tingkat keparahannya mulai bentol sebesar biji jagung hingga bibir bengkak.
Biduran bisa muncul di bagian tubuh mana pun. Berdasarkan pengamatan Kusmarinah, banyak pasien tidak menyadari, biduran dapat juga disebabkan oleh tekanan serta ketatnya pakaian.
4. Kanker Ganas Melanoma
Penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan bahwasanya perempuan berpakaian tetapi ketat atau transparan, maka ia berpotensi mengalami berbagai penyakit kanker ganas melanoma di sekujur anggota tubuhnya yang terbuka. Majalah kedokteran Inggris melansir hasil penelitian ilmiah ini dengan mengutip beberapa fakta, diantaranya bahwasanya kanker ganas melanoma yang masih berusia dini akan semakin bertambah dan menyebar sampai ke kaki.
Penyakit ini disebabkan sengatan matahari yang mengandung
ultraviolet dalam waktu yang panjang di sekujur tubuh yang berpakaian ketat atau berpakaian pantai (yang biasa dipakai wanita ketika di pantai dan berjemur di sana). Penyakit ini mengenai seluruh tubuh dengan kadar yang berbeda-beda. Tanda-tanda penyakit ini muncul pertama kali adalah seperti bulatan berwarna hitam agak lebar. Terkadang berupa bulatan kecil saja, kebanyakan di daerah kaki atau betis, dan biasanya di daerah sekitar mata, kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh disertai pertumbuhan di daerah-daerah yang biasa terlihat, pertautan limpa (daerah di atas paha), dan menyerang darah, lalu menetap di hati serta merusaknya.
Terkadang juga menetap di sekujur tubuh, diantaranya: tulang, dan bagian dalam dada. Juga bagian perut karena adanya dua ginjal yang menyebabkan  air kencing berwarna hitam karena rusaknya ginjal akibat serangan penyakit kanker ganas ini.  Penyakit ini juga menyerang janin di dalam rahim ibu yang sedang mengandung. Orang yang menderita kanker ganas ini tidak akan hidup lama. Obat-obatan belum bisa mengobati
kanker ganas ini.
5. Kemandulan
Pakaian ketat dapat menyebabkan kemandulan pada wanita. Pada cuaca yang sangat dingin, pakaian ketat tidak berfungsi menjaga suhu tubuh dari serangan hawa dingin. Suhu yang terlalu dingin jelas dapat membahayakan kondisi rahim  (Al-Istanbuli, 2006).  
Darah terganggu, menyebabkan varises dan gangguan yang di akibatkan jenis pakaian ketat dalam jangka waktu yang lama adalah membuat bentuk tubuh  menjadi buruk dan merusak tulang punggung. Pakain ketat dan transparan tenyata sangat  berbahaya menurut majalah kedokteran di Inggris, pakaian ketat yang di kenakan dalam waktu panjang dapat menyebabkan Kanker Milanoma. Menurut penelitian ilmiah pakaian ketat yang dikenakan oleh wanita di terik matahari dalam waktu yang panjang, setelah beberapa tahun menyebabkan Kanker ganas milanoma pada usia dini . dan kaos kaki nilon yang mereka kenakan tidak sedikitpun bermanfaat didalam menjaga kaki  mereka dari kanker ganas tersebut.
Kanker Melanoma adalah kanker kulit yang sangat berbahaya, dan kanker ini biasanya di mulai dengan tanda hitam pada kulit, atau tahi lalat. Tahi lalat adalah kumpulan sel pigmen abnormal (melanosit ) yang muncul pada kulit
Dan penyakit ini terkadang mengenai seluruh tubuh dengan kadar yang berbeda-beda. Gejala dari kanker ini adalah munculnya bulatan berwarna  hitam agak lebar dan terkadang berupa bulatan kecil saja, pada daerah kaki atau betis, atau bisa disekitar mata kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh. Penyebaran bulatan ini  disertai pertumbuhan di daerah-daerah yang biasa terlihat, pertautan limpa (daerah di atas paha), menyerang darah, dan menetap di hati dan merusaknya.
Dalam beberapa kasus kanker milanoma juga menyerang  tulang, bagian dalam dada dan perut. Kanker ini juga menyerang ginjal, Jika ginjal sudah rusak air kencing akan berwarna hitam.  Janin juga tidak luput dari serangan kanker milanoma ini.Orang yang menderita kanker ganas ini tidak akan hidup lama, karena belum di temukan obat yang benar benar mampu menyembuhkan kanker ganas ini.
6. Mengganggu mobilitas usus
Penggunaan celana yang terlalu ketat dapat mengganggu mobilitas dari usus. Hal inilah yang membuat seseorang merasa tidak nyaman atau sakit pada perut setelah dua atau tiga jam setelah makan. Namun terkadang masyarakat tidak  menyadari bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh penggunaan celana yang ketat.
7. Memicu pembekuan pembulu darah
Penggunaan pakaian ketat juga akan mengganggu gerakan tubuh yang dapat  memicu timbulnya pembekuan darah di dalam pembuluh darah, membuat aliran terganggu.
8. Mengganggu kesuburan wanita dan gangguan jamur di sekitar organ
Endometriosis (suatu gangguan yang sering mengakibatkan gangguan kesuburan pada wanita) diduga karena disebabkan kebiasaan seseorang yang selalu memakai pakaian ketat selama bertahun-tahun. Menggunakan pakaian ketat akan memicu sel-sel endometrium (selaput lendir rahim) untuk melarikan diri dari rongga rahim lalu berdiam di indung telur, sehingga kesehatan menjadi terganggu.
Bila hal ini dibiarkan terus menerus, maka akan menimbulkan gangguan jamur di sekitar organ intim wanita. Bila sudah menimbulkan jamur, maka dapat dipastikan seorang wanita akan mengalami berbagai gangguan.
Perlu diketahui bahwa jamur itu sangat suka  suasana lembab. ia akan tumbuh subur. Jika menggunakan celana ketat jeans maka daerah lipatanya akan menjadi lembab apalagi jika dipakai seharian itulah salah satu yang menjadi munculnya keputihan
9. Memperburuk https://www.box.com/s/rydzxre0n0mta3dkdzmqkualitas sperma dan menyebabkan kemandulan
Berdasarkan penelitian bahwa penggunaan pakaian ketat menyebabkan penurunan kualitas sperma yaitu  jumlah sperma yang biasanya 60 juta per mililiter kini turun drastis hingga ke angka 20 juta per mililiter. Setelah dilakukan penelitian  mendalam ternyata masalahnya masih terjadi pada skrotum lapisan yang melindungi penis. Suhu yang tidak normal pada
skrotum karena sering ditekan oleh celana jeans ketat bisa berakibat buruk pada kualitas sperma karena tumpukan keringat yang tidak bisa keluar disekitar penis tentu akan menimbulkan jamur yang akan meningkatkan suhu testis dalam produksi sperma.
Kurang lebih sama saja dengan wanita, penggunaan celana ketat bisa menimbulkan ‘kekurangan udara’ terutama kepada
organ vital.Umumnya suhu udara yang kondusif untuk organ vital normalnya sampai 36,5 derajat celcius, namun saat memakai celana ketat, suhu udarapun naik menjadi 37 derajat celcius.  Kondisi yang panas ini sangat berbahaya buat sperma. Sebuah penelitian membuktikannya  dengan mengambil sampel pria yang suka mengenakan celana ketat. Jumlah sperma yang diproduksi biasanya 60 juta permilimiter, dengan menggunakan celana ketat jumlah sperma turun drastis sepertiganya, yakni 20 juta permililiter.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata masalahnya terletak pada skrotum. Suhu yang tidak normal pada skrotum karena celana jeans ketat  bisa berakibat buruk pada kualitas sperma loh sobat kenapa? karena tumpukan keringat yang tidak bisa keluar di sekitar Organ vital. Ini akan menimbulkan jamur yang akan meningkatkan suhu testis dalam produksi sperma, dan bila diteruskan akan menjadi gatal dan akan menjalar ke bagian
buah zakar.
Ujung-ujungnya pun akhirnya terletak pada kesuburan kalian, walaupun secara genetik kamu termasuk keturunan yang subur, tetapi dengan kebiasaan penggunaan celana jeans ketat bisa menurunkan kualitas kesuburan!
10. Menyebabkan pingsan 
Mungkin terdengar ekstrim tapi hal ini sering dialami  oleh beberapa wanita. Meski  korset  sudah tidak popular lagi, pakaian sejenis itu dapat mengurangi pemakainya mengembangkan paru-parunya dan hal ini akan mengakibatkan nafas terasa berat. Selain itu, akan memperkecil  oksigen yang masuk ke dalam tubuh. Kategori pakaian seperti ini termasuk pakaian dalam pernikahan, bustier, dan spandek
11. Menaikkan asam lambung 
Terlalu ketat juga akan menyebabkan naiknya cairan asam lambung karena tekanan yang terlalu besar pada perut. Hal ini dapat meningkatkan tekanan di daerah abdominal yang akan menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan
12. Pakaian Ketat menurut Agama (Islam)
Memakai pakaian yang ketat dan sesak tidak  dianjurkan (makruh) baik dari sudut pandang syari’ah maupun dari sudut pandang kesehatan. Ada sebagian jenis baju ketat membuat orang yang mengenakannya sulit melakukan sujud. Jika baju seperti ini menyebabkan si pemakai sukar mengerjakan shalat atau bahkan  menyebabkan dia meninggalkan shalat, maka jelas hukum memakai baju seperti ini adalah haram.
Asy-Syaikh al Albaniy berkata bahwa celana ketat itu mendatangkan dua macam musibahMusibah pertama, bahwa orang yang memakainya menyerupai orang-orang kafir. Sedangkan Kaum Muslim memang memakai celana, akan tetapi model celana yang lebar dan longgar. Model seperti ini masih banyak  dipakai di daerah Suriah dan Libanon. Ummat Islam baru mengenal celana ketat setelah  mereka dijajah bangsa eropa. Pengaruh buruk itulah yang diwariskan oleh kaum penjajah  kepada ummat Islam. Akan tetapi karena kebodohan dan ketololan ummat Islam sendiri,  Mereka mengambil tradisi buruk tersebut.
Musibah kedua, celana ketat menyebabkan bentuk aurat terlihat dengan jelas. Memang benar bahwa aurat pria adalah anggota badan antara pusar dan lutut. Namun seorang hamba yang sedang melakukan shalat dituntut untuk berbuat lebih dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat (dalam masalah busana ini,  lihat Al Qur’an Surah 7:31). Tidak pantas dia melakukan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika sedang sujud bersimpuh di hadapan-Nya. Ketika dia mengenakan celana ketat, maka kedua pantatnya akan terbentuk dengan jelas. Bahkan lebih dari itu, bagian tubuh yang membelah keduanya juga terlihat nyata !
Bagaimana seorang hamba melakukan shalat dan menghadap
Rabb Semesta Alam dalam keadaan seperti ini ?! Yang lebih aneh lagi adalah  mayoritas pemuda Muslim biasanya menentang keras apabila kaum wanita Muslimah  memakai baju ketat. Alasan mereka bahwa baju ketat  yang dipakai wanita bisa menunjukkan bentuk tubuhnya secara jelas. Akan tetapi pemuda ini lupa akan dirinya sendiri. Dia tidak sadar  bahwa dia telah mengerjakan suatu hal yang dia sendiri membencinya.
Jika demikian, tidak ada bedanya antara wanita yang memakai baju ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya dengan pria yang memakai celana  ketat (jeans dan semacamnya-pen-) sehingga terlihat bentuk kedua pantatnya. Ketika pantat pria dan wanita dianggap sebagai aurat, maka hal menggunakan baju ketat bagi mereka itu sama saja hukumnya, yakni dilarang. Sebenarnya para pemuda wajib menyadari musibah yang telah melanda mayoritas mereka.
Rasulullah SAW telah melarang kaum pria shalat  dengan memakai celana tanpa gamis (kemeja). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud  dan al Hakim. Sanad hadits ini sendiri berkualitas hasan. Lihat Shahiih al Jaami’ al  Shaghiir nomor 6830 dan juga diriwayatkan oleh al Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy al Atsaar (I/382).
Adapun jika model celana yang dikenakan  ketika shalat tidak ketat dan berukuran longgar, maka sah shalat yang dikerjakan. Yang lebih  baik adalah dirangkap dengan gamis yang bisa menutup anggota tubuh antara pusar dan lutut.  Akan tetapi lebih baik lagi apabila panjang gamis itu sampai setengah betis atau sampai  mata kaki (asalkan tidak sampai menutupi mata kaki –pen). Hal seperti ini adalah cara menutup aurat yang paling sempurna (mungkin pakaian seperti ini di daerah kita agak sukar didapatkan di pasaran, namun cukup banyak sarung yang bisa menggantikan fungsinya –pen-). (Al Fataawaa I/69, tulisan Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah bin Baz).
Dengan latar belakang inilah Komite Tetap Pembahasan Masalah ‘Ilmiyyah dan fatwa Saudi Arabia (semacam MUI di Indonesia -pen-)  menjawab pertanyaan mengenai hukum Islam tentang shalat memakai celana. Jawaban yang dirumuskan adalah sebagai berikut: “Jika pakaian tersebut tidak menyebabkan aurat terbentuk dengan jelas, karena modelnya longgar dan tidak bersifat transparan sehingga anggota aurat tidak bisa dilihat dari arah belakang, maka boleh dipakai ketika shalat. Namun  apabila busana itu terbuat dari bahan yang tipis sehingga memungkinkan aurat yang memakai dilihat dari belakang, maka shalat yang dikerjakan batal hukumnya. Jika sifat busana yang dipakai hanya mempertajam atau memperjelas bentuk aurat saja, maka makruh  mengenakan busana tersebut ketika shalat. Terkecuali jika tidak ada busana lain yang dapat dikenakan.
13.    Cara Mengurangi Atau Mencegah Seorang Memakai Pakaian Ketat yang Berdampak Buruk Bagi Kesehatan
Setiap manusia tentunya ketika mengetahui akibat dari penggunaan pakaian ketat akan mulai sadar dan mengurangi pemakaian pakaiaan ketat. Selain itu, mengurangi produksi pakaiaan ketat juga bisa menjadi salah satu cara yang tepat.
Pemahaman sejak dini dari orang tua sangat  berperan dalam memberikan pendidikan dalam berpakaian sehingga sejak kecil anak dapat memahami dampaknnya bagi kesehatan.
Petugas kesehatan mempunyai perananan  yang penting dalam pencegahan penggunaan pakaian ketat ini dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat terutama masyarakat di perkotaan.
14.  Kesimpulan 
Pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia selain  makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian  untuk melindungi dan menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan  manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya. Pakaian juga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan pemakainya,  sehingga dalam memilih pakaian yang digunakan harus cermat, seperti memilih pakaian yang tidak terlalu ketat bagi tubuh, agamapun melarang.
15.  Saran 
Sebagai individu yang berperan dalam kesehatan masyarakat, pemahaman akan masalah-masalah yang sering terjadi sesuai dengan perkembangan zaman  sangat penting dalam memecahkan permasalahan kesehatan masyarakat.

Saterdag, 08 Junie 2013

Faktor gaya hidup dan Survival pada Wanita dengan Kanker Payudara


Lifestyle Factors and Survival in Women with Breast Cancer

Lawrence H. Kushi
Marilyn L. Kwan
Marion M. Lee, dan
Christine B. Ambrosone

Abstrak

Dengan meningkatnya umur panjang dan terapi kanker yang lebih efektif, populasi penderita kanker meningkat. Misalnya, diperkirakan bahwa ada lebih dari 2 juta penderita kanker payudara di Amerika Serikat. Di antara penderita kanker dan keluarga mereka, ada kepentingan substansial dalam apakah ada sesuatu yang bisa mereka lakukan di luar terapi konvensional untuk meningkatkan prognosis mereka. Kepala di antara ini adalah kepentingan dalam diet dan penggunaan terapi komplementer dan alternatif. Meskipun minat ini, ada sangat sedikit yang diketahui tentang efek dari faktor-faktor pada kelangsungan hidup kanker. Hal ini sebagian karena pendekatan yang biasa untuk penelitian tentang diet dan kanker payudara pada populasi manusia. Studi yang telah memiliki makanan dan gizi sebagai kepentingan utama telah berfokus hampir secara eksklusif pada etiologi dan pencegahan kanker, ada ratusan studi tersebut. Sementara itu, studi populasi setelah diagnosis kanker payudara jarang dianggap faktor gaya hidup. Studi tersebut telah berfokus terutama pada terapi, seperti efek dari rejimen kemoterapi yang berbeda, atau faktor prognosis, seperti efek dari stadium penyakit, status reseptor hormon, atau tanda tangan ekspresi gen pada prognosis. Sejauh bahwa faktor gaya hidup telah menjadi fokus penelitian prognosis kanker, mereka sering ditujukan pada pertanyaan apakah mereka mempengaruhi kualitas hidup, dan bukan pada apakah mereka mempengaruhi kelangsungan hidup kanker atau pengulangan.

Ada beberapa studi yang telah memiliki faktor gaya hidup seperti diet dan aktivitas fisik sebagai fokus utama. Selain 2 percobaan acak, Intervensi Gizi Studi Wanita (WINS) dan Wanita Makan Sehat dan Hidup Studi, setidaknya ada 5 studi kohort prospektif yang sedang berlangsung pada penderita kanker payudara yang memiliki diet sebagai fokus utama. Meskipun studi ini berbeda dalam berbagai aspek, mereka semua ditujukan untuk mengkaji apakah perbedaan dalam diet dapat menyebabkan perbedaan dalam kekambuhan dan tingkat kematian. Satu studi tersebut, Persiapan Studi, merupakan studi kohort prospektif yang dimulai perekrutan peserta studi pada awal 2006. Penelitian ini adalah unik karena itu adalah perempuan mendaftarkan segera setelah diagnosis kanker payudara seperti yang praktis, sedangkan penelitian lain telah umumnya terdaftar wanita setelah selesai terapi adjuvant atau lambat. Ini dan penelitian lain berjanji untuk menyediakan beberapa informasi yang obyektif pertama mengenai diet dan prognosis kanker payudara dan berfungsi sebagai model untuk studi diet dan prognosis kanker lainnya.

Kanker payudara adalah kanker yang paling umum di kalangan wanita di Amerika Serikat dan banyak negara lain (1). Kemajuan dalam deteksi dini dan jenis terapi dan aplikasi mereka telah mengakibatkan kelangsungan hidup berkepanjangan antara perempuan didiagnosa menderita kanker payudara. Akibatnya, diperkirakan bahwa populasi penderita kanker payudara di Amerika. Serikat setidaknya 2,3 juta (1). Sebagai populasi ini tumbuh, informasi yang berkaitan dengan apakah faktor-faktor gaya hidup seperti diet atau aktivitas fisik dapat mempengaruhi prognosis merupakan peningkatan kepentingan.

Meskipun sejumlah besar penderita kanker payudara, ada sangat sedikit yang diketahui tentang efek dari faktor gaya hidup seperti diet atau aktivitas fisik pada prognosis kanker payudara, ada baru-baru ini ulasan, cukup komprehensif dari literatur ini kecil tapi tumbuh (2-4 ). Ini kontras dengan ratusan publikasi dari studi epidemiologi yang berhubungan faktor diet untuk perkembangan kanker (5). Ini kekurangan informasi tentang diet dan prognosis kanker bagian dari konsekuensi dari fokus peneliti tertarik pada topik ini. Epidemiologi yang telah tertarik pada peran diet pada kanker telah berfokus hampir secara eksklusif pada studi tentang etiologi kanker. Lebih dari 2 lusin studi kohort prospektif besar sedang dilakukan dengan fokus utama pada pemahaman hubungan faktor makanan dengan kejadian kanker payudara dan lainnya. Di sisi lain, peneliti tertarik dalam studi prognosis kanker payudara umumnya mengabaikan peran potensial dari faktor gaya hidup diet atau lain dan malah beralih fokus pada studi yang meneliti modifikasi dalam terapi adjuvant, seperti melalui kelompok onkologi kooperatif seperti Adjuvant Bedah Nasional Program Payudara (6,7), atau identifikasi molekul atau lainnya indikator prognostik, seperti status reseptor hormon (8) atau, baru-baru ini, profil genetik (9-11). Dalam konteks dampak yang dikenal pada prognosis faktor, misalnya, perubahan dalam diet, penggunaan suplemen, atau faktor gaya hidup lain mungkin cukup dianggap ketinggalan jaman.

Meskipun literatur yang berhubungan dengan diet dan kambuhnya kanker payudara atau kelangsungan hidup telah meningkat selama dekade terakhir, studi yang tersedia saat ini menderita keterbatasan desain yang substansial membatasi kemampuan mereka untuk mengatasi bahkan yang paling dasar dari pertanyaan yang dihadapi korban, keluarga mereka, dan mereka penyedia layanan kesehatan, yang bertanya-tanya apakah diet dapat mempengaruhi prognosis kanker payudara. Keterbatasan ini hasil dari kenyataan bahwa banyak penelitian tersebut tidak secara khusus dirancang untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan prognosis. Kurangnya literatur dan kesulitan yang melekat dalam hasil interpretasi dalam situasi di mana bimbingan informasi sulit. Ini telah dicatat oleh American Cancer Society dalam laporan pada pedoman prognosis kanker di antara individu (12). Hanya baru-baru bahwa peneliti telah mulai melakukan studi terkait dengan faktor gaya hidup dan prognosis kanker.

Suara Perempuan, Pilihan Perempuan: Tantangan Gizi dan HIV / AIDS


Women's Voices, Women's Choices: The Challenge of Nutrition and HIV/AIDS

Ellen G. Piwoz dan
Margaret E. Bentley

Abstrak

The Society for Nutrition Research International mensponsori Simposium berjudul "Suara Perempuan, Pilihan Perempuan: Tantangan Gizi dan HIV / AIDS di Asia dan Afrika" pada Experimental Biology 2004 untuk menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan HIV-positif di rangkaian miskin sumber daya dari Asia dan Afrika, ketika datang ke keputusan sehari-hari mereka dipaksa untuk membuat tentang kesehatan mereka sendiri dan gizi, dan kesehatan dan gizi anak-anak mereka. Makalah ini pengantar merangkum alasan untuk sesi ini, termasuk ringkasan dari bukti peningkatan kerentanan perempuan terhadap HIV, dampak gizi infeksi HIV, dan pemberian makan bayi khusus dan keprihatinan gizi yang dihadapi ibu hamil dan menyusui HIV-positif di Afrika dan Asia .
Masalah gizi dan HIV / AIDS dibahas di sini dari perspektif antargenerasi, menggunakan data baru dari penelitian kualitatif, uji klinis, dan intervensi perilaku di India, Malawi, Afrika Selatan, Tanzania, dan Zimbabwe, untuk menggambarkan masalah penting, dengan menggunakan studi peserta 'kata-kata sendiri untuk menyampaikan pesan-pesan kunci. Fokusnya adalah pada perempuan, karena mereka memikul banyak beban infeksi HIV dalam hal jumlah mereka dan dalam tanggung jawab mereka untuk menyediakan makanan dan perawatan untuk anak yatim dan anggota keluarga yang terkena dampak HIV. Pilihan pemberian makanan bayi juga dipertimbangkan dalam kajian ini, karena implikasi luas yang tidak menyusui sama sekali dan berhenti menyusui dini memiliki gizi pada kesejahteraan anak-anak yang terpajan HIV, serta kontribusi positif payudara- makan dengan gizi anak dan kelangsungan hidup di seluruh dunia.

Inefisiensi gizi dan genetik dalam Satu-Karbon Metabolisme dan Risiko Kanker Serviks

Nutritional and Genetic Inefficiencies in One-Carbon Metabolism and Cervical Cancer Risk
                           
    Regina G. Ziegler2,
                  Stephanie J. Weinstein, dan
          Thomas R. Ketakutan

Abstrak

Kekurangan folat telah lama didalilkan untuk memainkan peran dalam etiologi kanker serviks, kanker ketiga yang paling sering di antara wanita di seluruh dunia. Dalam sebuah studi kasus-kontrol besar multietnis berbasis masyarakat kanker serviks invasif di lima wilayah AS, kami dinilai dengan diterima dan mendalilkan faktor risiko dengan sebuah wawancara di rumah dan sampel darah berhasil diperoleh, setidaknya 6 bulan setelah menyelesaikan pengobatan kanker, dari 51 dan 68%, masing-masing, kasus diwawancarai dan kontrol. Kasus dengan penyakit lanjut (6%) dan / atau menerima kemoterapi (4%) dikeluarkan, meninggalkan 183 kasus dan 540 kontrol. Serum dan folat sel darah merah diukur dengan kedua mikrobiologis dan tes radiobinding.

Untuk keempat langkah folat, risiko itu cukup, tapi nonsignificantly, meningkat bagi perempuan dalam kuartil terendah, dibandingkan dengan tertinggi [sepenuhnya disesuaikan risiko relatif (RR), termasuk serologi manusia papillomavirus (HPV) -16 status = 1,2-1,6]. Namun, bagi perempuan di atas tiga kuartil homocysteine ​​(> 6.31 umol / L), risiko kanker serviks invasif secara substansial dan signifikan meningkat (sepenuhnya disesuaikan RR, termasuk serologi HPV-16 status = 2,4-3,2, P untuk trend = 0,01) . Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa homosistein beredar mungkin 1) indikator terutama akurat folat memadai, 2) ukuran yang integratory dari cukup folat dalam jaringan atau 3) biomarker gangguan metabolisme satu-karbon. Kontribusi polimorfisme umum dalam gen jalur satu-karbon, serta, B-12 dan / atau riboflavin, untuk homocysteine, metabolisme yang tidak memadai vitamin B-6 vitamin efisien satu-karbon dan peningkatan manfaat risiko kanker serviks eksplorasi lebih lanjut.

Berat Badan ibu selama ASI Eksklusif Apakah Terkait dengan Mengurangi Berat dan Panjang Keuntungan di Putri terinfeksi HIV Perempuan Malawi


Maternal Weight Loss during Exclusive Breastfeeding Is Associated with Reduced Weight and Length Gain in Daughters of HIV-Infected Malawian Women  

1. Elizabeth M. Widen
2. Margaret E. Bentley
3. Dumbani Kayira
4. Charles S. Chasela
5. Denise Jamieson J.
6. Martin Tembo
7. Alice Soko
8. Athena P. Kourtis
9. Valerie L. Flax
10. Sascha R. Ellington
11. Charles M. van der Horst, dan
12. Linda S. Adair


Abstrak

Penurunan berat badan ibu selama ASI eksklusif dapat mempengaruhi pertumbuhan ASI eksklusif bayi melalui gangguan kualitas atau kuantitas ASI. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana penurunan berat badan ibu 2-24 minggu postpartum terkait dengan berat badan bayi dan mendapatkan panjang pada 1309 ibu menyusui yang terinfeksi HIV dan eksklusif mereka menyusui bayi. Malawi pasangan ibu-bayi dalam ASI, Antiretroviral, dan Studi Gizi diacak dengan 2 × 3 desain faktorial untuk intervensi gizi 2-lengan dengan suplemen nutrisi berbasis lipid (LNS), memenuhi kebutuhan gizi menyusui, atau tidak ada LNS dan 3-lengan antiretroviral (ARV) intervensi (ibu, bayi, atau tidak ada rejimen ARV). Model regresi linier digunakan untuk menghubungkan penurunan berat badan ibu (penurunan berat badan vs tidak ada penurunan berat badan) dengan berat badan bayi dan panjang keuntungan dari lahir sampai 24 bulan, dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan mengontrol BMI ibu pada 2 minggu (rata-rata ± SD: 23,2 ± 3,0 kg/m2) dan berinteraksi BMI ibu dengan berat badan.

Dalam model disesuaikan, dibandingkan dengan anak perempuan yang tidak menurunkan berat badan, panjang dan berat badan lebih rendah pada anak perempuan yang ibunya memiliki BMI lebih rendah pada 2 minggu postpartum ditambah dengan penurunan berat badan. Misalnya, di antara ibu dengan BMI 18 kg/m2 awal, anak-anak perempuan mereka yang kehilangan berat badan bertambah berat badan kurang [β = -0.29 kg (95% CI: -0.53, -0.06)] dan panjang [β = -0.88 cm (95% CI: -1.52, -0.23)] dari lahir sampai 24 minggu dibandingkan putri mereka yang berat badannya naik. Meskipun efek hanya diamati pada anak perempuan, menunjukkan perbedaan gender mungkin dalam menyusui dan perilaku makan, temuan ini menunjukkan bahwa penurunan berat badan ibu dengan cadangan energi yang rendah merupakan faktor risiko untuk hasil pertumbuhan bayi miskin.

Berat Badan Ibu yang Rendah di Trimester Kedua atau Ketiga Meningkatkan Risiko Keterlambatan Pertumbuhan Intrauterin



Low Maternal Weight Gain in the Second or Third Trimester Increases the Risk for Intrauterine Growth Retardation

1. Richard S. Strauss dan
2. William H. Dietz

Abstrak

Berat badan ibu yang rendah selama kehamilan telah disarankan sebagai penyebab retardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR). Namun, kenaikan berat badan kehamilan dan pertumbuhan janin sangat bervariasi selama kehamilan. Kami meneliti hubungan antara berat badan ibu pada trimester individu terhadap risiko IUGR pada 10.696 perempuan yang terdaftar dalam Collaborative Perinatal Project Nasional (NCPP) dan Kesehatan Anak dan Studi Pembangunan (CHDS). Berat badan rendah didefinisikan sebagai <-0.1 kg / minggu untuk trimester pertama dan <0,3 kg / minggu untuk trimester kedua dan ketiga. IUGR didefinisikan sebagai berat lahir <2500 g pada bayi penuh panjang. Berat badan rendah pada trimester pertama tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko IUGR. Setelah mengendalikan faktor pembaur (tinggi ibu, indeks massa tubuh, paritas, ras, toksemia, diabetes), berat badan rendah pada trimester kedua dikaitkan dengan risiko relatif IUGR 1,8 (1,3-2,6) pada kelompok NCPP dan 2,6 (1,6-4,1) dalam kelompok CHDS.

Demikian pula, berat badan rendah pada trimester ketiga dikaitkan dengan risiko relatif IUGR dari 1,7 (1,3-2,3) pada kelompok NCPP dan 2,5 (1,7-3,8) dalam kelompok CHDS. Setelah mengoreksi kenaikan berat badan pada trimester lain, peningkatan risiko ini tetap. Peningkatan risiko IUGR diamati dengan berat badan trimester kedua dan ketiga rendah di seluruh spektrum indeks massa tubuh ibu. Risiko kenaikan berat badan rendah pada trimester kedua atau ketiga secara signifikan lebih rendah pada remaja dan secara signifikan lebih besar pada wanita gemuk dan wanita berusia 35 y atau lebih. Berat badan rendah baik pada trimester kedua atau ketiga dikaitkan dengan risiko lebih besar secara signifikan hambatan pertumbuhan dalam kandungan dalam dua kelompok yang berbeda. Kami menyimpulkan bahwa peningkatan kesadaran berat badan ibu pada kehamilan pertengahan dan akhir sangat penting untuk mengidentifikasi bayi beresiko untuk IUGR.





Efek hormonal kedelai pada Wanita premenopause dan Pria


Hormonal Effects of Soy in Premenopausal Women and Men

Mindy S. Kurzer

Abstrak

Selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan minat dalam efek hormonal mungkin kedelai isoflavon kedelai dan konsumsi pada perempuan dan laki-laki. Konsumsi kedelai telah disarankan untuk mengerahkan potensi efek pencegahan kanker pada wanita premenopause, seperti peningkatan panjang siklus menstruasi dan jenis kelamin kadar globulin pengikat hormon dan tingkat estrogen menurun. Ada beberapa kekhawatiran bahwa konsumsi fitoestrogen mungkin memberi efek yang merugikan pada kesuburan pria, seperti tingkat testosteron dan menurunkan kualitas air mani. Penelitian pada wanita telah memberikan dukungan moderat untuk efek menguntungkan. Satu studi cross-sectional menunjukkan estrogen serum berbanding terbalik dikaitkan dengan asupan kedelai. Tujuh studi intervensi kedelai dikendalikan untuk fase siklus menstruasi.

Studi ini diberikan 32-200 mg / d isoflavon dan umumnya menunjukkan penurunan pertengahan siklus gonadotropin plasma dan tren ke arah peningkatan panjang siklus menstruasi dan penurunan konsentrasi darah estradiol, progesteron dan hormon seks pengikat globulin-. Beberapa penelitian juga menunjukkan penurunan estrogen kemih dan peningkatan rasio kemih 2 - (OH) ke 16α-(OH) dan 2 - (OH) ke 4 - (OH) estrogen. Kedelai dan isoflavon konsumsi tampaknya tidak mempengaruhi endometrium pada wanita premenopause, meskipun ada efek estrogenik lemah dilaporkan dalam payudara. Dengan demikian, studi pada wanita sebagian besar telah konsisten dengan efek menguntungkan, meskipun besarnya efek cukup kecil dan signifikansi pasti. Hanya tiga studi intervensi melaporkan efek hormonal dari isoflavon kedelai pada pria. Studi-studi baru-baru ini pada pria soyfoods mengkonsumsi atau suplemen yang mengandung 40-70 mg / d isoflavon kedelai menunjukkan beberapa efek pada hormon plasma atau kualitas air mani. Data ini tidak mendukung kekhawatiran tentang efek pada hormon reproduksi dan kualitas air mani.